MiG-21 Fishbed: Benteng Indonesia yang Ampuh


                    
Dikutip dari Majalah Angkasa, Edisi Februari

 Walau tidak sempat mempertunjukkan kebolehannya, harus diakui, daya gertak pesawat Rusia satu ini, memang hebat. Amerika, konon, sampai menghimbau Belanda untuk membatalkan niatnya perang terbuka dengan Indonesia.

Begini ceritanya. Ketika Presiden Soekarno menyatakan perang terbuka dengan Belanda awal tahun 1960, semua unsur kekuatan disiagakan. AURI sampai detik itu sudah memiliki 49 MiG-17 Fresco. Setengah dari kekuatan sudah bercokol di Morotai, Amahai, dan Letfuan. Ada juga P-51 Mustang, Il-28 Beagle, B-25 Mitchell, B-26 Invader, C-47 Dakota serta C-130 Hercules. Belanda masih garang sampai detik ini. Boleh jadi, karena kapal induk Karel Doorman sudah membuang jangkar di Biak sejak tanggal 6 Agustus 1960. 

Hingga suatu hari, sebuah pesawat intai AU AS Lockheed U-2 Dragon Lady melayang di atas Madiun. Selama konfrontasi, sering pesawat ini sengaja diterbangkan dari Darwin ke Filipina untuk misi-misi intelijen. Dari ketinggian 70.000 kaki, teridentifikasi oleh pilot beserta kru deretan jet tempur dan pembom. Ditiliknya dengan cermat. Tak salah lagi, sang pilot yakin bahwa pesawat yang dilihatnya adalah pembom Tu-16 Badger dan MiG-21F Fishbed C (sebutan yang diberikan NATO), jet tempur penghadang (intercept) paling ditakuti barat kala itu. Sebelumnya, intelijen AS sudah mengendus kedatangan MiG-21 di Indonesia. 

Hasil pengintaian ini bergegas disampaikan Amerika kepada Belanda. “Percuma melawan Indonesia, mereka punya ini.” Begitu kira-kira laporan intel AS kepada pihak Belanda sambil menyodorkan foto hasil jepretan pesawat U-2. Amerika pun sebenarnya masih gamang, mengingat F-4E Phantom yang baru dimodifikasi, masih meragukan untuk diadu berlaga melawan MiG-21. Seriusnya ancaman MiG-21 terhadap pesawat tempur AS, sampai membuat AL AS mendirikan sekolah elit tempur Top Gun

Begitu cerita Marsda (Pur) Jahman, penerbang MiG-21 AURI. Menurut Jahman (65), Indonesia membeli MiG-21 sebagai tindakan bela diri andaikata Belanda mendatangkan pesawat-pesawat yang lebih modern. Ketika kampanye Trikora dicanangkan, AU Belanda memiliki satu skadron pesawat Hawker Hunter F.6 buatan Inggris tahun 1954. Disejajarkan dengan MiG-21, pesawat ini jelas bukan tandingan. Kecepatan maksimumnya hanya 1.117 km/jam, daya capai ketinggian 14.325 meter dengan jangkauan 690 kilometer. Kalau terbang rendah, pemakaian bahan bakarnya akan bertambah boros. Sementara MiG-21, dengan kecepatan Mach-2,1 mampu mencegat pembom pada ketinggian 20 kilometer pada jarak 1.800 kilometer.
Terbang perdana
"MiG-21 begitu luar biasa", ujar Rusman
Sebagai persiapan menyambut kedatangan si “pencegat”, AURI telah menyiapkan dua jalur pembentukan penerbang MiG-21. Yang pertama, dengan cara mengirimkan langsung empat penerbangnya ke Uni Soviet. Yaitu Kapten Udara Sukardi, Letnan Udara I Jahman, Letnan Udara II Igon Suganda, dan Letnan Udara II Mundung dua penerbang terakhir di-grounded setibanya di Rusia. Mundung didera sakit, sedangkan Suganda terlalu kecil. Pressure suit nomor kecilpun, masih terlalu besar untuknya. Karena itu kemudian diganti dengan Letnan Udara I Sobirin Misbach dan Letnan Udara I Saputro. 

Langkah kedua, sebaliknya, di dalam negeri. Mayor Udara Rusman ditunjuk Komodor Udara Leo Wattimena untuk mendapatkan pelatihan langsung dari instruktur yang sengaja didatangkan dari Rusia. “Jadi kita dilatih hampir bersamaan. Hanya beda tempat,” tutur Marsda (Pur) Rusman. 

Tim kecil yang dikirim ke Uni Soviet, persisnya di Lugowaya, sebuah kota kecil yang berbatasan langsung dengan India di mana sebuah pangkalan AU Uni Soviet bercokol, pun tidak berlama-lama di negeri tirai besi itu. Hanya empat bulan, “Sekadar just to know how to fly,” jelas Jahman. “Bukan berarti tidak terbang, tetap terbang, kita solo,” tambahnya. 

Ketika mendapat perintah berangkat ke Rusia, Jahman baru beberapa bulan standby di Letfuan, setelah sebelumnya siaga di Morotai dalam mendukung kampanye Trikora. Menurut Jahman, kepindahannya ke Letfuan menyusul gugurnya Kapten Udara Gunadi setelah pesawat MiG-17 yang diterbangkannya gagal take off karena afterburner-nya tidak maksimal. Tragedi itu terjadi tanggal 29 Juni 1962. Komandan skadron MiG-17 saat itu dijabat Mayor Rusman. 

Bagi yang berangkat ke Rusia mungkin tidak terlalu kesulitan, karena langsung ke asalnya. Lain halnya Rusman. “Saya harus melabeli dulu dengan bahasa Inggris semua panel-panel di kokpit, yang sebelumnya berbahasa Rusia,” aku Rusman. Setibanya di Indonesia, pesawat MiG-21 langsung dirakit. Para teknisi Rusia segera membimbing teknisi Indonesia. Rusman pun mulai mempersiapkan diri. Perang yang tidak ketahuan kapan akan berkecamuk di Papua Barat, terpaksa ditinggalkannya. Rencananya, tentu Rusman akan dikembalikan ke medan perang seandainya Belanda benar-benar serius untuk perang. 

Disamping perwira senior di skadron fighter, Rusman juga menjabat perwira operasi Skadron Udara 11 DH-115 Vampire, jet latih pertama Indonesia. Tak salah, melihat keseniorannya, Leo mempercayainya sebagai orang pertama yang menerbangkan MiG-21 di dalam negeri. Kebetulan, Leo juga harus ke luar negeri. Rusman tidak terlalu kesulitan untuk mengakrabkan diri dengan MiG-21, mengingat ratusan jam terbang sudah dikantonginya dari MiG-15 dan MiG-17. “Pada dasarnya tidak jauh beda dengan MiG-17,” kata Rusman perihal pesawat bersayap delta ini. 

Program kilat dimulai. Buku manual MiG-21 dilahapnya, para instruktur Rusia dengan tekun menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Pesawat rampung dirakit teknisi dan dinyatakan ready to fly. Tibalah Rusman pada saat yang menentukan, yaitu menerbangkan pesawat yang disebut sebagai roket terbang di hadapan beberapa pejabat penting yang, katanya, mau hadir. “Secara teoritis saya sudah paham,” aku Rusman.
Pagi itu, Juli 1962, segala persiapan dilakukan di Bandara Kemayoran. Sebagian dari MiG-17 dan MiG-15 yang berpangkalan di Kemayoran, terlihat berjejer di pelataran parkir. Benar saja, KSAU Laksamana Suryadarma dan beberapa pejabat teras AURI sudah terlihat hadir. Di hanggar, sebuah mesin turbojet Tumansky R-11-F2-300 mulai memekakkan telinga. Pesawat siap bergerak ke landasan pacu. Tidak ada perasaan janggal bagi Rusman, sama seperti menerbangkan pesawat Rusia terdahulu. Di ujung landasan, gemuruh mesin jet berdaya dorong 5.950 kilogram meninggi. Itulah tenaga penuh karya spektakuler biro disain Mikoyan-Gurevich (OKB). 

Rusman mencelat meninggalkan tanah, menanjak, meninggalkan hadirin dengan tepuk tangannya yang riuh rendah. Menurut rute yang di-plot, pesawat akan belok ke kiri. Rusman menyentakkan tangkai kemudi (handle) ke kiri. Astaga, dia kaget, pesawat melintir kencang. Tak dikiranya akan begitu sensitif. Tapi kesadarannya cepat muncul. “Ya sudah, saya putar saja sekalian sampai empat kali,” katanya tertawa. Setelah mendarat, didapatinya ucapan selamat dan decak kagum. Hadirin takjub melihat Rusman yang sanggup membuat roll sampai beberapa kali. “Mereka nggak tahu kagetnya saya.” 

Beberapa hari kemudian, jelas Rusman, Skadron 14 berkekuatan 20 MiG-21 yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, Madiun, diresmikan KSAU di Bandara Kemayoran. Rusman langsung ditunjuk sebagai komandan. Sebelumnya sudah diresmikan Skadron 11 MiG-15/17. Sedangkan Skadron 12 MiG-19, justru dibentuk belakangan. Kemudian dibentuk pula Wing 300, induk skadron-skadron tempur yang bermarkas di Kemayoran. Rusman ditunjuk sebagai komandan Wing 300 dari tahun 1963 sampai 1966.
Penerbangan pertama diikuti beberapa penerbang berikutnya. Menyusul transisi penerbang. Nun, ribuan kilometer di utara, Jahman beserta ketiga rekannya juga mulai menerbangkan pesawat yang sama. Nantinya, setelah kembali dari Lugowaya (1963), keempat penerbang ini bersama Rusman menjadi instruktur pesawat yang mulai dipakai Uni Soviet tahun 1959 dan dipertahankan di garis terdepan pertahanan selama 30 tahun. Target utama AURI yaitu, mempercepat alih teknologi dari penerbang Rusia ke Indonesia. 

Seruduk hutan jati 
 
Seorang komandan harus lebih dulu tahu segalanya dari anak buah. Filosofi ini dipegang Rusman sebagai komandan skadron. Penguasaan menerbangkan MiG-21 terus dilakukannya baik melalui petunjuk buku manual maupun dari instruktur. Satu hari, sebulan setelah terbang perdana, Rusman terbang seorang diri dalam sebuah misi untuk menguji kemampuan high speed pesawat. Pagi itu, 29 Agustus 1962, pemilik 1.500 jam terbang MiG-21 ini bertolak dari Madiun dengan rute seputaran Jawa Timur (baca: Rusman Tembus Mach-2). 

“Yang mengejutkan saya saat harus terbang high speed adalah, bahwa pesawat ini ternyata lebih cepat dari pikiran saya,” kata si “Hell Cat”, panggilan Rusman di udara. Persis seperti yang dirasakan Rusman, kehebatan inilah yang diunggulkan Soviet untuk menahan laju pembom B-52 Stratofortress AU AS yang kecepatan mendekati Mach-1. Bagi Indonesia hampir serupa. Menahan ancaman pembom negara-negara musuh menjadi tugas utama MiG-21. “Kita harus sanggup mengintersep pada titik dimana mereka bisa merilis bom,” jelas Jahman, mantan Danlanud Iswahyudi itu. 

Untuk mendukung akselerasinya secepat mungkin mencegat pembom, MiG-21 dilengkapi afterburner. Malasalahnya, kadangkala afterburnernya tidak berfungsi dengan baik saat pesawat tengah menggandul sebuah bom konvensional “jatuh bebas” seberat 500 kilogram. Kesalahan teknis ini sempat merenggut nyawa beberapa penerbang MiG-21. Seperti pada satu ketika, tepatnya hari Kamis, saat dilangsungkan latihan terbang tinggi di Madiun. 

Seorang penerbang, ingat Rusman, gagal lepas landas, karena tenaga tambahannya tidak bekerja sempurna. Pesawatnya terus merambat cepat di permukaan landasan, baru hidung yang terangkat. Anak muda ini terus berusaha, dihidupkannya lagi. Dia sadar, ujung landasan sekian detik lagi habis. Tanpa pikir panjang, ditariknya kursi pelontar (ejection seat) bermaksud bail out. Pesawat tercebur masuk sungai di ujung landasan. 

Sulit berpikir jernih kala terjepit. Mungkin itu yang dialami anak muda ini. Dalam kepanikkannya, ditariknya kursi pelontar yang jelas tidak menerapkan teknologi zero ejection seat baru aktif pada ketinggian 1.000 kaki. Pemuda berkemauan besar itu menghembuskan napas terakhir. “Padahal dia sudah minta izin pada saya, usai terbang akan ke Yogya untuk melangsungkan pertunanganan pada hari Sabtu,” kenang Rusman. Sebelumnya, di hari Selasa, kecelakaan juga menimpa seorang penerbang. Sebuah pesawat jatuh di hutan jati, daerah Cepu, dalam sebuah latihan terbang malam. Pesawat menyambar pohon jati sepanjang satu kilometer. 

Seorang penerbang lainnya juga membuat kekeliruan saat akan mendarat. Padahal, aku Rusman, dia sudah memberitahu kalau mengurangi kecepatan dari high speed, intake-nya akan membuka. Proses ini akan menimbulkan getaran. Celakanya, karena kaget, dia langsung eject. Penerbangnya sih, selamat, tapi pesawatnya hancur. 

Rusman sendiri juga nyaris celaka gara-gara afterburner, ketika berangkat dari Kemayoran ke Madiun. Ketenangan serta segudang pengalaman, menjadi sangat mahal dalam kondisi ini. Rusman sangat sadar, kecepatan pesawat saat itu hanya pas untuk melayang. Salah handling sedikit saja, fatal. Sayapnya yang teramat tipis, hampir tidak bisa diharapkan memberikan daya angkat besar. Pesawat melayang persis di atas atap rumah penduduk.
Cross country MiG-21

Kegagahannya berakhir mengharukan
Walau sangat cepat, pesawat pencegat MiG-21 tidak bisa diharapkan mengerjakan tugas-tugas strategis. Kemampuannya hanya untuk mengangkasa dengan cepat, terbang cepat, kombat, dan pulang! Endurance-nya kecil. 

Menyadari keterbatasan pesawat, sementara wilayah Indonesia teramat luas untuk dipertahankan dan dijangkau MiG-21. Namun rasa bela negara, terlalu besar untuk dikalahkan oleh keterbatasan pesawat. Sebagai uji coba, Rusman terbang keliling Jawa Timur. Ternyata pesawatnya hanya mampu terbang 1 jam 40 menit. “Itupun sudah dengan drop tank dan teknik terbang yang irit,” katanya. 

Satu jam 40 menit. Apa yang bisa dijangkau dari Jakarta? Mulailah mereka menghitung. Medan bisa! “Tapi tidak bisa pulang,” jawab Rusman. Bagaimana kalau cuaca buruk, tiba-tiba engine trouble, atau ada gangguan di landasan? Padahal terbangnya harus lurus, tidak ada toleransi “belok kiri-kanan”. Waktu tempuh Kemayoran-Medan sekitar 1 jam 30 menit. Artinya, hanya tersisa 10 menit untuk keadaan darurat. Berbagai pertanyaan bergalau dibenak Rusman. Namun dia sudah memutuskan, pulau-pulau besar di luar Jawa harus didarati. 

Medan akhirnya dikunjungi. Kurang puas, Rusman, Sukardi, dan Ibnu Subroto, melakukan terbang cross country melintas Sumatera pada tahun 1963. Dengan mengambil rute Kemayoran-Palembang-Medan-Padang-Kemayoran, ketiga pencegat menyambar-nyambar di setiap daerah yang disinggahi. Mereka juga menginap di ketiga kota yang didarati. Sambutan masyarakat begitu antusias. 

Sukses rupanya. Karena itu, perjalanan dilanjutkan ke Indonesia bagian timur setahun kemudian. Kali ini lebih banyak, melibatkan enam pesawat. Rute yang diambil : Madiun-Makasar-Morotai-Biak. Dalam jumlah besar, MiG-21 pernah melakukan formasi sembilan pesawat. Cross country ini dilakukan bukan untuk unjuk kekuatan AURI, “Tapi untuk meningkatkan skill, dan orientasi daerah bagi penerbang,” jelas Rusman lagi.
Ketika konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan kampanye Dwikora, Indonesia menyiagakan pembom Tu-16 dan MiG-21. Karena jangkauannya yang kecil, pesawat harus ditempatkan di Palembang dan Medan. Selama pengabdiannya di AURI, memang tidak ada pengalaman perang udara hebat yang ditinggalkan MiG-21 bagi generasi berikutnya. Selama Dwikorapun, hanya beberapa kali berpapasan dengan pesawat Hawker Hunter atau HS Buccaneer Inggris saat mengawal Tu-16. 

Leo Wattimena sendiri memang tidak menghendaki adanya duel udara di antara kedua belah pihak. “Kecuali ditembak,” perintah Leo. Namun begitu, dua rudal K-13A atau NATO menyebutnya AA-2 Atoll dan kanon 30 mm, tetap disiagakan. Biarpun dilarang bertindak provokasi, ada saja beberapa penerbang yang berbuat iseng. Maksudnya hanya ingin melihat kesiapan radar lawan. 

Dengan airborne dari Medan, pesawat terbang low level menyusuri selat Malaka. Begitu menjelang perbatasan, tower akan berteriak memberitahu ada pesawat naik dari Butterworth. “Kita langsung pull up, kabur,” jelas Jahman yang menjabat komandan Skadron 14 setelah Rusman. Saat pesawat Inggris tiba di perbatasan, MiG-21 AURI sudah terbang jauh. “Kita (MiG-21) memang tidak pernah perang. Sebagai pencegat, kita hanya menunggu lawan yang tidak pernah jelas. Itulah tugas kita, menunggu dan menunggu,” tutur Jahman yang menerbangkan MiG-21 nomor 2164. 

Bagi Rusman maupun Jahman, agak kelam nasib MiG-21 pasca “pemberontakan yang gagal” oleh komunis Indonesia. Kedua penerbang MiG generasi pertama ini, kurang begitu tahu apakah betul MiG-21 di jual. Lain halnya dengan MiG-19. “Saya sendiri yang mengantarkan ke Pakistan, sekalian melatih penerbangnya,” aku Rusman. Soal pembelian MiG-19, ditambahkan Jahman, terpaksa dibeli Indonesia ulah politik dagang Rusia. Soalnya, sepengetahuan Jahman, Rusia hanya bersedia melepas MiG-21 asalkan MiG-19-nya juga dibeli. 

Menurut polemik yang beredar saat itu, Indonesia memberikan MiG-19 kepada Pakistan karena merasa dikerjain. Gosip yang beredar seperti diceritakan Jahman, satu ketika Pakistan memberi pesawat angkut yang ternyata bobrok. Ketahuannya, sejak mendarat pesawat sumbangan ini tidak pernah diterbangkan lagi. Dari karakteristik pesawat yang diceritakan Jahman, sepertinya pesawat dimaksud adalah Lockheed Constellation. Itulah sebabnya, MiG-19 diberikan kepada Pakistan. Kondisi MiG-19 sebenarnya tidak terlalu baik. Pesawatnya selalu tidak siap untuk diterbangkan. “Padahal teknisi sudah menyatakan bagus. Begitu kita hidupkan, selalu ada saja yang tidak benar,” aku Jahman. 

Namun yang jelas, bagi Pakistan yang tengah terlibat perang dengan India, jelas berharga. Selain Indonesia, Cina juga menyumbangkan pesawat yang sama. Niat hatinya, Pakistan sebenarnya ingin meminjam pembom Tu-16 AURI yang dipersenjatai rudal AS 1 Kennel, tapi ditolak Men/Pangau Omar Dhani.
“Saya tidak tahu apakah betul dijual dan kemana. Kalau benar, palingan itu urusan orang-orang gede,” kilah Rusman yang selalu menerbangkan pesawat MiG-21 bernomor 2160 dan 2170 tersenyum kecut. “Pesawat itu hebat sekali,” tutur Rusman berkali-kali, seperti tidak puas memuji kehebatan sang pencegat. MiG-21 AURI mengakhiri zaman keemasannya setelah farewell flight sebulan penuh, pada tahun 1967.(ben)

TNI AU Meregenerasi Alutsista

Sumber: TNI AU.

TNI Angkatan Udara berupaya membangun kekuatan dan memodernisasi serta meregenerasi alutsista yang dimiliki saat ini, hal tersebut seirama dengan amanat Presiden RI tentang revitalisasi industri-industri pertahanan Negara yang merupakan prioritas program 100 hari pemerintah.

Demikian penegasan Kasau Marsdya TNI Imam Sufaat, S.IP., pada pembukaan Rapat Pimpinan (Rapim) dan Apel Komandan Satuan (Dansat) TNI Angkatan Udara Tahun 2010 di Ruang Sabang-Merauke Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Rabu (27/1).

Dikatakan, rencana kesiapan alutsista TNI Angkatan Udara tahun anggaran 2010 membutuhkan jam terbang sebanyak 55.252 jam yang digunakan untuk mendukung kesiapan operasi dan latihan antara lain untuk operasi dan latihan awak pesawat, pendidikan, penanggulangan bencana dan kegiatan lainnya, serta membutuhkan jam operasional radar sebanyak 18 jam perhari secara bergantian.

Menurut Kasau, latar belakang Rapim TNI AU adalah tindak lanjut dari Rapim TNI dan sebagai upaya untuk memantapkan konsolidasi dalam jajaran Angkatan Udara, sehingga lebih memantapkan peran pengabdian sesuai bidangnya dan kepedulian TNI Angkatan Udara terhadap agenda nasional dan dinamikanya serta menyegarkan semangat dan kebulatan tekad untuk mengabdikan jiwa raga kepada Negara dan bangsa melalui Angkatan Udara.

Dari latarbelakang tersebut, maka Rapim TNI Angkatan Udara bertujuan untuk, pertama, adanya pemahaman yang sama tentang kebijakan Panglima TNI dan Kasau untuk menghadapi tugas-tugas mendatang, kedua, memantapkan visi, persepsi dan interprestasi TNI AU dalam menghadapi perkembangan lingkungan yang dinamis, ketiga, meningkatkan koordinasi guna memantapkan pembinaan satuan dan keempat, mendapatkan masukan dan penyampaian kebijakan pimpinan dalam rangka pelaksanaan pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan TNI AU.

Dengan tema “Melalui Rapat Pimpinan TNI Angkatan Udara dan Apel Komandan Satuan TA. 2010, Kita Tingkatkan Kesiapsiagaan Operasional Dalam Rangka Menegakkan Kedaulatan Negara, Menjaga Keutuhan Wilayah NKRI dan Menjamin Keselamatan Bangsa”. Kasau mengharapkan, tema tersebut tidak hanya sekedar tema yang kemudian dilupakan, namun agar benar-benar dijalankan di semua satuan dan komando, sedangkan kedaulatan Negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa adalah harga mati.

PESAWAT SIPIL UNTUK MILITER?? Jalan pintas dan murah

Penggunaan pesawat sipil untuk tugas2 militer bisa dirunut sejak diciptakan pesawat itu sendiri. Walaupun, persyaratan yg diharuskan sangatlah spesifik untuk sebuah pesawat dapat diterima oleh kalangan militer, akan tetapi tetap saja ada sejumlah kecil pasar pesawat komersial yg selalu dapat dirubah dengan cepat untuk kepentingan militer seperti tugas pengisian bahan bakan diudara (aerial tanker role).

Pada masa kini, situasi diatas meningkat dengan diterimanya beberapa pesawat (propeler maupun jet) untuk melakukan tidak hanya patroli maritim atau pengawasan EEZ, tetapi juga tugas yg lebih kompleks seperti pesawat peringatan dini, inteligen elektronik atau perang anti kapal selam.

Alasan untuk melebarkan ketertarikan2 pada pesawat2 sipil ini dapat dihubungkan nilai ekonomis dalam mengadopsi pesawat yg sudah ada, dimana pesawat2 tsb sudah diproduksi secara luas. Tidak hanya hal pembiayaan untuk pembuatan pesawat dari awal, tetapi juga dalam hal dukungan logistik. Lebih jauh lagi, dengan teknologi yg semakin canggih dimana komponen elektronik dapat diperkecil dalam hal ruang, maka pesawat yg dipilih untuk tugas tertentu dapat dipilih pula dari jenis pesawat2 jet jangkauan regional ataupun antar benua.

Akan tetapi, sebuah pesawat komersil untuk dapat dirubah untuk kepentingan tugas2 militer harus memenuhi beberapa karakteristik, seperti:
- Ukuran kabin yg luas untuk mengakomodasi sejumlah perangkat elektronik (biasanya pengaturan sensor2 atau koordinasi situasi taktis).
- Suasana tempat bekerja yg nyaman ( temperatur, kebisingan, tempat istirahat, dll).
- Power supply yg besar dan sistim pendingin yg baik untuk tugas2 elektronik.
- Konfigurasi pengangkutan yg fleksibel sehingga memudahkan untuk trade-off antara jumlah yg diangkut untuk suatu tugas dan bahan bakar yg dibutuhkan.
- Kompabilitas dalam memasang berbagai antena di badan pesawat, sayap, dan ekor serta terdapatnya ruang terpisah sehingga mengurangi gangguan tetapi tetap dapat meradiasi jangkauan.
- Jangkauan jarak jauh atau lamanya terbang (flight endurance) pada kecepatan tinggi (untuk tipe pesawat turbofan).

Dari sudut pandang pabrik pesawat, pasar ini tidaklah besar dari segi jumlah, tetapi sangat menjanjikan jika melihat biaya modifikasi pesawat untuk menerima peralatan spesifik yg diinginkan. Jadi nilai tambahnya dapat dikatakan melebihi dari pembelian langsung pesawat2 komersil.

Terdapat perbedaan menarik dari para pembuat pesawat2 ini, sebagai contoh pabrik Embraer dan juga Dassault, membuat dan memasarkan macam2 tipe militer untuk pesawat2 komersial mereka. Sedangkan Gulfstream dan Bombardier hanya menyuplai pesawat secara “kosongan”, untuk diintegrasikan sesuai dengan misi yg diinginkan kepada kontraktor yg dituju. Pendekatan kasus per kasus juga dapat dilakukan, seperti contoh, Boeing ditunjuk sebagai kontraktor utama pada penyediaan pesawat tanker dan AEW, tapi juga menyuplai pesawat “kosongan” 767-400ER kepada Northrop Grumman yg ditunjuk sebagai kontraktor utama pada penyediaan pesawat E-10A MC2A (Multisensor Command and Control Aircraft)

Dibawah ini sedikit diulas beberapa aplikasi saat ini:

AIRBUS NARROW BODY FAMILY (A319/320/321)

Pesawat Airbus 321 dipilih oleh konsorsium TIPS (Transatlantic Industrial Proposed Solution), yg mana didalamnya terdapat EADS,Galileo Avionica, General Dynamics Canada, Indra, Northrop Grumman, dan Thales untuk menyediakan NATO sistim penginderaan darat dari udara.

Aplikasi potensial lainnya adalah sebagai patroli maritim. Jenis A320 MPA telah ditawarkan kepada negara Jerman dan Itali untuk memenuhi persyaratan yg diinginkan sebagai pengganti ATLANTIC. Walaupun proyek ini tidak tercapai, AIRBUS masih mencari pembeli2 potensial. Untuk MPA/ASW dari jenis A319 sedang ditenderkan kepada angkatan laut India. Kebutuhan untuk memodifikasi badan pesawat sangatlah besar, dikarenakan AL India menginginkan tempat penyimpanan senjata didalam pesawat dimana sudah termasuk rudal udara-darat di sayap pesawat.

AIRBUS A330MRTT
 

Keinginan AIRBUS untuk masuk kedalam pasar militer akhirnya berbuah denga manis dengan dipesannya sejumlah pesawan A310 untuk tugas2 cargo dan angkutan personil ( sudah beroperasi AU dari Belgia, Kanada, Perancis, Jerman dan Thailand), dan diikuti dengan konversi MRTT (Multi Role Tanker Transport) di Jerman dan Kanada. AU Chili menerima 2 pesawat A310 untuk tugas pesawat VIP dan MRTT.
Kandidat yg paling menjanjikan dari AIRBUS adalah jenis A330 yg mempunyai kapasitas angkut yg besar (baik untuk volume maupun berat) dan dengan nilai ekonomis menggunakan configurasi 2 mesin. AU Australia dan AU Inggris memenangkan pesawat ini ketika berkompetisi dengan BOEING. AU Australia sebagai pemesan pertama, memakai 5 pesawat jenis ini, dan pesawat pertama langsung diterbangkan dari Toulose 30 Maret 2006 ke EADS CASA Spanyol, tepatnya di Getafe untuk dikonfigurasikan sebagai pesawat tanker. Pesawat tanker Australia ini, dengan kode KC-30B mempunyai 3 refuelling boom, dan mempunyai sistim bela diri yg canggih dengan memakai sistim Northrop Gumman AAQ-24 DIRCM (Directed, Infra-Red Counter Measures ). Pengiriman A330 MRTT kepada RAAF direncanakan tahun ini hingga 2011, dan kemampuan operasi akan dimulai sejak 2009.

A300-200 dipilih oleh konsorsium AirTanker untuk menyediakan AU Inggris pesawat angkut dan tanker selama 27 tahun, dengan menggunakan 14 pesawat jenis ini baru dan bekas untuk menggantikan VC10 dan Lockheed TRISTAR. AU Arab Saudi memesan 3 pesawat dengan opsi 3 buah lagi, sedangkan AU Uni Emirat Arab memesan 3 pesawat. Kedua negara ini membutuhkan pesawat tanker mutakhir untuk armada pesawat perang mereka (F-15, TORNADO dan TYPHOON)

Riset sedang digalakkan untuk pengembangan tingkat volume transfer “boom” pada A310 di Getafe oleh EADS supaya dapat menyamai atau lebih dari spesifikasi yg diinginkan oleh USAF dalam menyuplai F-15, F-16 dan yg mutakhir F-35 JSF).

Potensi yg paling besar untuk memenangkan tender pesawat tanker adalah tender pesawat tangker pengganti (KC-X) untuk pesawat KC-135, dengan pemesanan untuk gelombang pertama sebanyak 179 pesawat. Dan tidak menutup kemungkinan untuk tipe dual role (cargo dan tanker) yg mana mungkin juga menggunakan tipe pesawat yg berbeda.

ATR-42/72 MP/ASW

Pesawat transport regional bermesin turboprop keluarga ATR-42/ATR-72 telah melahirkan jenis militer untuk patroli laut (dengan sejumlah batasan) tugas ASW.

ATR-42 MP SURVEYOR
 
diluncurkan pertengahan 90-an untuk polisi bea cukai Itali dengan pemesanan 3 pesawat, kemudian penjaga pantai Itali dengan pemesanan 2 pesawat. Peralatan pesawat ini berdasarkan sistim ATOS (Airborne Tactical and Observation System) oleh Galileo Avionica. Sistim ini menyediakan tugas yg komplet, dan pengaturan komunikasi termasuk didalamnya sensor2 seperti FLIR, TV, searchlight dari Spectrolab dan peluncur flare dari Thiokol, plus perlengkapan ESM. Tugas2 dilakukan dari 2 konsol multifungsi, dan persenjataan yg terbatas dapat dibawa di sisi sayap untuk kanon 12,7mm.

Pada bulan Agustus 2005, Turki memesan 10 pesawat ATR-72 ASW dibawah program MELTEM-3. ATR-72 adalah modifikasi dari ATR 72-500 dan mengintegrasikan kemampuan patroli laut ATR-42 MP plus kemampuan tambahan ASW dan SuW dengan peluncur sonobuoys, Magnetic Anomaly Detector (MAD), peluncur chaff/flare, 2 dept charge, 4 A244S atau 2 MU90 torpedo ringan, dan 2 rudal permukaan AM39 EXOCET.

Angkatan laut Itali sedang mempertimbangkan ATR-42 atau yg lebih besar ATR-72 untuk memperkuat armada ATLANTIC ASW mereka yg sudah mulai tua. Nantinya, ATLANTIC diperbaharui untuk kepentingan ASW, dan ATR-42/72 untuk pengoperasian penugasan patroli laut sehari-hari, dan pengawasan EEZ.

BOEING 737 FAMILY

Sudah sejak lama pesawat2 Boeing digunakan oleh sipil maupun militer, terutama untuk tipe BOEING 737. Hingga saat ini ada 2 jenis 737 yg sudah diluncurkan, yaitu, P-8A MP/ASW untuk US NAVY dan AEW&C untuk pasar ekspor.

Boeing P-8A POSEIDON

Program pengembangan pesawat multi tugas laut (MMA) untuk US NAVY yaitu P-8A berdasarkan pesawat Boeing 737-800 hingga saat ini terus berlangsung. Riset dengan menggunakan wind tunnel termasuk kegiatan persenjataan terpisah sudah diselesaikan. Diproyeksikan pesawat ini akan mulai beroperasi tahun 2013 dengan pemesanan sebanyak 108 pesawat. Program pengembangan dengan Jerman dan Italy tidak tercapai, tetapi telah digantikan oleh India dan Australia. Pada waktu yg bersamaan, Boeing juga sedang mempelajari kemungkinan versi lain dari P-8A untuk tugas2 Inteligen, Pengamatan dan mata2 (ISR) dan inteligen sinyal (SIGINT).

Dasar pesawat yg digunakan untuk P-8A dan AEW&C adalah seri 737-700 dengan penambahan pada sayap, dan daya angkut seperti seri 800. Untuk P-8A dilakukan modifikasi yg cukup besar untuk mengakomodasi persenjataan yg ditempatkan didalam pesawat walaupun sudah terdapat di sayap untuk rudal2 udara-laut. Pesawat ini juga dilengkapi dengan radar pencari buatan Raytheon AN/APY-10 yg ditempatkan dihidung pesawat serta peluncur sonobuoy internal (120 unit). Terdapat 7 tempat konsol untuk bekerja dan ruang istirahat yg cukup luas.

Boeing 737 AEW&C

Hingga saat ini, pesawat dengan sistim peringatan dini terbaik di dunia masih diakui adalah E-3 SENTRY AWACS berdasarkan pesawat Boeing yg lebih besar 707. Dengan teknologi yg semakin canggih dan dapat diperkecilnya sejumlah peralalat elektronik, maka sudah tidak dibutuhkan lagi pesawat berbadan lebar untuk tugas2 selanjutnya.

Proyek WEDGETAIL (AIR 5077) sudah memberikan AU Australia dengan 6 (opsi satu) pesawat Boeing 737 AEW&C yg mana 2 sudah harus diberikan tahun 2008. Sensor utama pesawat ini menggunakan radar phased arrayNorthrop Grumman L-band Multi-role Electronically Scanned Array Antenna (MESA) yg mampu melakukan secara simultan pencarian dan traking target2 di udara dan darat. Pesawat ini juga dilengkapi dengan sistim peringatan dan penanggulangan ancaman seperti sistim Missile Approach Warning (MAW) yg bekerja sama dengan Directed Infra-Red Countermeasures (DIRCM) yg terletak di ekor pesawat bersama peluncur chaff/flares dan radar jammer.

AU Turki juga sudah memesan 4 pesawat dengan opsi 2 pesawat. Pesawat pertama yg sudah dikirim pada tahun 2007, akan diikuti dengan 3 pesawat lainnya yg akan dimodifikasi dan dilengkapi di Turki oleh perusahaan TAI.

Pesawat ini juga dipesan oleh AU Korea Selatan sebanyak 4 buah dan besar kemungkinan akan dipesan juga oleh AU Malaysia.

Boeing B-767
Pesawat seri ini mempunyai potensi besar untuk menjadi pesawat pengganti jenis tanker US AIRFORCE KC-135 STRATOTANKER yg menggunakan seri Boeing 767-200. Besar kemungkinan pemesanan akan mencapai sebanyak 500 pesawat. Pada saat yg sama, KC-767 GTTA (Global Tanker Transport Aircraft) sudah berhasil dengan pasar ekspor dengan pemesan negara pertama yaitu Itali, kemudian Jepang (4 pesawat). Kapasitas total angkut bahan bakar 112.000 liter.

Rencana AU Italy tahun 2005 mengalami kemunduran dalam mengoperasikan pesawat ini dikarenakan terdapat kendala pada sisi2 sayap pipa instalasi pengisian (yg disyaratkan harus dapat mengisi bahan bakar pesawat2 Eurofighter, TORNADO, dan AMX). Pipa pengisian pada ekor pesawat masih memasang rigid boom dari Boeing dengan remote kontrol dari crew yg terletak dibagian depan pesawat. Perangkat Remote Aerial Refuelling Operator (RARO-II) adalah pengembangan yg lebih canggih dari yg terdahulu KC-135 dan KC-10, yg membutuhkan operator untuk beroperasi dibagian bawah belakang pesawat. Dengan peralatan diatas maka pesawat KC-767 milik AU Itali dapat mengakomodasi pesawat2 F-35A yg akan dipesan, sedangkan F-35B yg akan beroperasi untuk AL Itali sudah pasti akan menggunakan sistim yg dipakai oleh pesawat2 US NAVY.

Pasukan bela diri Jepang memesan 4 pesawat tanker KC-767 (dengan kemungkinan pemesanan kembali 4 pesawat), mengikuti pemesanan sebelumnya yaitu 4 pesawat AEW&C dengan dasar pesawat yg sama untuk memudahkan dukungan logistik.

Pesawat2 B-767 AWACS milik JASDF dilengkapi dengan radar buatan Northrop Grumman AN/APY-2 yg berbentuk piringan diatas badan pesawat.

BOMBARDIER BD-700 GLOBAL EXPRESS
Dengan badan pesawat yg besar, pesawat bisnis bermesin jet ganda Bombardier BD-700 GLOBAL EXPRESS yg mempunyai signifikan jarak jangkau menjadi pesawat yg ideal untuk tugas2 jarak sedang pengawasan dan pengintaian. Dengan ruang kabin yg cukup luas dan kapasitas bahan bakar yg besar, RAF memilih GLOBAL EXPRESS sebagai platform sistim udara pengintaian darat atau disebut ASTOR (Airborne Stand Off Radar). Karakteristik yg dapat dilihat dengan kasat mata dari pesawat SENTINEL R.1 (demikian dijuluki oleh RAF) adalah bentuk seperti perahu kanoe dibawah badan depan pesawat, yg mana aerodinamisnya diimbangi dengan beberapa fin pada bagian ekor pesawat. Pesawat ini dilengkapi dengan radar Raytheon dual-mode GMTI-SAR (pembaharuan radar ASARS yg menjadi perlengkapan pesawat Lockheed Martin TR-1/U-2). Sistim ASTOR dapat bekerjasama dengan sistim Joint STARS milik Amerika yg dapat memberikan info2 penting bagi pasukan2 sekutu, terutama fungsi komando dan kontrol. Seluruh sistim ASTOR akan mulai beroperasi tahun ini, sistim ini terdiri dari 5 pesawat SENTINEL R.1 dan 8 stasiun darat. Sistim ini dioperasikan bersama antara AU dan AD Inggris yg terletak di pangkalan udara RAF Waddington, dan dukungan operasi oleh perusahaan Raytheon yg mempunyai kontrak selama 10 tahun

DASSAULT FALCON FAMILY
Dassault Aviation diakui mempunyai banyak pengalaman dalam mengkonversi pesawat2 jet bisnis menjadi pesawat2 militer untuk banyak negara. Pengguna terbesarnya adalah penjaga pantai Amerika US Coast Guard. Pada tahun 80 an mereka memesan 41 HU-25 GUARDIAN (berdasarkan pesawat MYSTERE XX/FALCON 20) untuk tugas2 pengawasan laut. Beberapa saat lalu, FALCON 900 MSA sudah beroperasi di Jepang untuk tugas2 yg sama, dan AL Perancis mengoperasikan FALCON 50M SURMAR.
Produk terbaru Dassaul FALCON 900 MPA sudah ditawarkan kepada AL India dimana disebutkan lebih murah daripada P-8A, A320 atau P-3C bekas. FALCON 900 MPA didasari pesawat FALCON 900DX tetapi menggunakan mesin yg lebih kuat Honeywell TFE731-60 dan konsumsi bahan bakar yg irit sehingga mampu bertahan diudara selama 3 jam pada jarak 2200km dari pangkalan. Sensor2 utama menggunakan sistim AMASCOS dari perusahaan THALES, yg termasuk didalamnya radar pencari permukaan OCEAN MASTER dan kamera FLIR serta data link taktis dan komunikasi satelit. Tipe EW (peringatan dini) dapat juga dipasang sesuai dengan keinginan pemesan. Antena radar ditempatkan dibawah dalam pesawat, dan persenjataan dapat dibawa diluar pesawat dibawah sayap.

EADS CASA CN 235 & 295
Pesawat CN-235 awalnya adalah program kolaborasi antara Spanyol dan Indonesia, yg didisain dari awal untuk kebutuhan pesawat sipil dan militer. Produk mereka diakui berhasil dalam tugas2 yg canggih dimana membutuhkan pemasangan sistim kontrol dan pengintaian. Terutama CN-235 versi MP (patroli laut), penggunanya adalah Spanyol, Kolumbia, Ekuador, Indonesia, Irlandia, Turki.

Perkembangan terbaru adalah versi HC-235A milik US Coast Guard yg ditunjuk untuk dilengkapi menjadi pesawat ‘Deepwater” dengan pemesanan sebanyak 3 unit dan opsi 6 unit. Pesawat ini akan melakukan tugas jarak jangkau menengah termasuk search and rescue, kontrol polusi laut, interdiksi obat2 laut dan angkutan barang dan personil.

C-295 adalah versi pesawat militer dengan penguatan pada badan pesawat, struktur dan roda pendarat untu memenuhi persyaratan militer. Kapasitas bahan bakan meningkat dari 5,264 menjadi 6,714 liter, dan dapat dilengkapi dengan pengisian bahan bakar diudara. Sayap pesawat dapat dilengkapi dengan 6 pilon untuk angkut luar (dua 800kg sisi dalam, dua 500kg tengah, dua 300kg sisi luar) Pesawat ini ditawarkan dalam bentuk 2 versi: versi standar C-295M Angkut, dan C-295MP/ASW PERSUADER untuk tugas2 patroli laut dan perang anti kapal selam. Untuk C-295MP/ASW dilengkapi peralatan standar EADS FITS (Fully Integrated Tactical System) dengan 4 konsol untuk operator dan radar pencari Litton APS-504(V)S5, dan dapat membawa sunobuoys2 dan beragam persenjataan anti kapal selam.

Pesawat C_295 MP/ASW sudah terjual untuk Algeria (4 unit), dan Portugis (5 unit, 3 dilengkapi dengan FITS). Pada tahun 2005, Venezuela memesan 10 C-295M dan 2 PERSUADER, tetapi kemudian batal karena intervensi dari pemerintah AS.

EMBRAER ERJ-145 FAMILY
Keberhasilan pesawat jet regional seri ERJ-145 yg diproduksi lebih dari 1000 pesawat, dari awal sudah dikembangkan juga untuk versi militer dengan kode EMB-145. Untuk tugas2 militer, EMB-145 mempunyai ruang kabin yg luas sehingga dapat mengakomodasi perlengkapan yg cukup besar. Tugas2 yg dapat dilaksanakan oleh EMB-145 antara lain ELINT (Electronic Intelligence), SIGINT (Signal Intelligence), AEW&C (Airborne Early Warning and Control) , AGS (Airborne Ground Sensor), MP/ASW (Maritime Patrol/Anti-Submarine Warfare), dan juga tanker.

Pemesanan pertama oleh AU Brazil pada tahun 1997 untuk 5 pesawat EMB-145SA AEW&C. Sensor utama pesawat ini menggunakan buatan Swedia Ericsson PS-890 ERIEYE side-looking radar yg ditempatkan dibagian atas badan pesawat. Akibat ditempatkannya alat sensor ini, maka diperlukan tambahan beberapa fin dibawah badan pesawat dan sepasang fin vertikal yg diletakkan diatas dan dibawah ekor horisontal pesawat.

EMB-145SA juga dipesan oleh AU Yunani 4 pesawat dan AU Meksiko 1 pesawat.
AU Brasil juga mengoperasikan 3 pesawat versi EMB-145RS (R-99B) yg ditugaskan untuk tugas2 remote sensing seperti: kontrol polusi lingkungan, memonitor ekploitasi sumber daya alam, mendeteksi aktivitas2 ilegal, dll. Untuk pesawat jenis ini, sensor utamanya adalah radar IRIS (Integrated Radar Imaging System) dari MacDonald Dettwiler Kanada.yg diletakkan dibawah badan pesawat. Alat2 sensor lainnya adalah Star SAFIRE FLIR dan DAEDALUS UV, IR dan visible light line scanner.

Untuk saat ini, versi militer terbaru EMB-145 adalah EMB-145 MP/ASW dimana 2 pesawat jenis ini sudah dipesan oleh AU Meksiko. Pesawat ini dilengkapi dengan radar SEAVUE untuk pengamatan permukaan dan multi target engagements, serta magnetic anomaly detector, FLIR, dan peralatan ESM.

Versi terpenting dari seri ini adalah EMB-145ABS (Airborne Ground Sensor) yg dipilih oleh Lockheed Martin dan Harris Corporation sebagai kontraktor utama US dalam pengadaan program US joint Aerial Common Sensor (ACS). Ditunjuknya pesawat ini merupakan faktor penting untuk Embraer dikarenakan jumlah pemesanan yg besar ( 38 pesawat untuk US Army dan 19 pesawat untuk US NAVY). Sayangnya pada tahun 2005, program ini dibatalkan dikarenakan Lockheed Martin salah dalam mengkalkulasi volume, berat, beban listrik dan pendingin yg disyaratkan.

Jika program ini akan dilanjutkan tahun 2009, maka pesawat yg diperuntukkan akan menjadi lebih besar seperti Embraer 190, Gulfstream G550, dan Bombardier GLOBAL EXPRESS.

GULFSTREAM G550
Gulfstream dikenal luas sebagai perusahaan penghasil pesawat2 jet ukuran besar untuk kalangan bisnis atas. Seperti sudah ditulis diatas, kombinasi dari kabin yg luas serta jarak jangkauan yg jauh/durasi terbang yg lama menghasilkan pesawat yg cocok untuk melakukan beragam tugas2 militer.

Masuknya Gulfstream akhir2 ini di pasar pesawat militer, dan ambisi terbesarnya saat ini adalah dengan dipesannya 7 (opsi 2) pesawat G550 oleh AU Israel. Pemesanan ini sudah termasuk 3 pesawat yg akan didisain oleh EITAM, yg akan menjadi pesawat yg ditugaskan sebagai CAEW (Conformal Airborne Early Warning) dilengkapi dengan radar phased array IAI/Elta PHALCON, dan 3 pesawat yg ditugaskan sebagai SEMA (Special Electronics Mission Aircraft) dgn kode SHAVIT, untuk misi ELING/SIGINT dengan perlengkapan EL/1-3001 Airborne Integrated Signal Intelligence System (AISIS).

Program untuk merubah menjadi Gulstream G550 CAEW membuat pesawat ini mengalami perombakan besar-besaran. Antena PHALCON yg panjang dan permukaan rata ini dipasang dari samping depan badan pesawat hingga kebelakang, dan untuk memberikan cakupan 360 derajat maka dibutuhkan 2 antena tambahan dihidung dan ekor pesawat tersebut. Pesawat untuk modifikasi SHAVIT sudah dikirim tahun 2005-06, dan yg untuk modifikasi CAEW sejak 2006.

Pengembangan yg akan datang untuk G550 (dan umumnya pesawat sipil ukuran sedang yg bisa diadaptasi oleh militer), adalah untuk tugas sebagai tanker. Untuk pesawat2 jenis ini, akan memberikan nilai yg lebih ekonomis untuk sejumlah angkatan udara dengan armada pesawat yg terbatas.

Disadur penuh dari
Military Technology
Vol. XXXII – Issue 3 – 2008
Page 24-31

PTDI Tawarkan Helikopter Pengganti Super Puma TNI AU

TEMPO InteraktifBANDUNG - PT Dirgantara Indonesia menawarkan pembuatan helikopter EC 725 dan EC 225 untuk menggantikan helikopter super puma yang dipakai TNI Angkatan Udara."Tahun 2011 kita masih harus meyelasaikan tiga pesanan pesawat super puma untuk AU, setelah itu kami akan tawarkan heli tipe lain." kata Budi Santosa, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia ketika meresmikan pembuatan komponen helikopter EC 725 dan EC 225 di Bandung, Rabu (27/1)

Menurut Budi, PT Dirgantara Indonesia sebenarnya bisa merakit seluruh pesawat heli super puma dan bell yang selama ini dirakit didalam negeri."Tapi kalau pesananya banyak, tidak satu dua tentu ada batas minilanya." ujarnya.

Sejauh ini, sudah banyak yang yang memesan. Meski begitu, Budi enggan menjelaskan biaya satu pesawat helikopter pengganti super puma yang akan ditawarkan ke Departemen Pertahanan."Tahun ini kita menargetkan proyek sebesar Rp 1,6 triliun." ujarnya. "2010 negara tetangga juga merencanakan untuk memasan pesawat."

Henry Stell Direktur Utama Eurocopter Indonesia enggan menjelaskan berapa harga yang ditawarkan dan kontrak kerjasama untuk pembuatan satu pesawat helicopter tipe CEC 723 dan EC 225 militari."Kita memberikan harga yang kompetetif, kami percaya dengan komitemen kualitas yang diberikan PT DI, kalau tidak kami tidak akan di sini," ujarnya.

PT DI Buat Kerangka Helikopter Mutahir Eurocopter

BANDUNG (Pos Kota) – PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Eurocopter Perancis meresmikan pembuatan rangka (airframe) helikopter mutakhir EC 725 / EC 225. Peresmian ditandai dengan penyerahan “rivet gun” dari Dirut PT DI, Budi Santoso dan VP Airframe Eurocopter, Andreas Stoeckle kepada dua karyawan PT DI Rabu (27/1) di hangar PT DI, Bandung.

Dirut PT DI, Budi Santoso dan VP Airframe Eurocopter, Andreas Stoeckle  mengatakan, kerjasama pembuatan rangka helikopter ini sebagai tindak lanjut dari kerjasama yang ditandatangani kedua perusahaan ini tahun 2008.

Menurut Budi Santoso, pihaknya mendapat kontrak membuat 125 unit rangka helikopter,  masing-masing bagian ekor (tailboom) dan bagian badan (fuselage). Kedua bagian itu merupakan bagian terbesar (lebih dari 50 persen) dari rangka helicopter. Sementara bagian lain, yakni mesin dan kock pit dikerjakan oleh Airframe Eurocopter. Rangka yang dibuat PT DI merupakan struktur utama pesawat terbang.

Dalam perjanjian, kata Budi, 125 unit rangka helikopter ini harus selesai tahun 2020. Sebagai tahap pertama PT DI harus menyerahkan rangka ini Oktober 2010, selanjutny dikirim ke Airframe Eurocopter untuk dirakit dengan komponen lain yang dibuat Eurocopter, Perancis.

Andreas Stoeckle dalam penjelasannya menyebutkan, helikopter EC 725 / EC 225, merupakan pengembangnan dari helikopter Super Puma yang pernah merajai pasar dunia. Dengan dibuatnya  “tailboom” dan “fuselage” di PT DI, berarti Eurocopter menjadikan PT DI sebagai pemasok utama komponen, karena kedua komponen tersebut merupakan bagian terbesar, lebih dari 50 persen dari pembangunan fisik pesawat, terdiri dari 4.000 komponen dasar dan 500 pekerjaan sub assembly untuk merakit komponen utama. (chevy/B).

Tarif Pesawat Akan di Naikan

Sempat nonton Liputan6 SCTV ga?...

Ada kabar yang kurang mengenakan bagi anda para pemakai jasa penerbangan di Indonesia. Apa itu??? ini beritanya:

Liputan6.com, Jakarta: Bagi Anda pengguna layanan pesawat terbang, bersiap-siaplah untuk merogoh kocek lebih dalam. Tidak lama lagi, tarif pesawat kelas ekonomi untuk rute penerbangan regional akan naik hingga seratus persen. Kenaikan ini akan berbeda pada tiga layanan. Untuk layanan minimal, tarif pesawat akan naik sebesar 80 persen. Layanan menengah akan naik 90 persen, sementara tarif layanan penuh naik hingga 100 persen.

Maskapai penerbangan diberikan kebebasan untuk memberikan jenis layanan kepada penumpangnya. Namun, rencana kenaikan ini baru tahap sosialisasi, dan belum ditandatangani oleh menteri perhubungan. Sejumlah warga mengaku keberatan dengan kenaikan tarif, karena biasanya tidak diimbangi dengan peningkatan mutu layanan.

Bagaimana dengan anda, setuju ga dengan rencana ini?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More